pada tanggal
UNDUH PERANGKAT DAN BANK SOAL
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di tengah kondisi cuaca dan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang menjadi perhatian masyarakat, murid diajak mengenal lebih dekat makna dan praktik Shalat Istisqa.
TANGGAMUS — Pagi itu, halaman SD Negeri 1 Srimenganten terasa berbeda. Setelah menyelesaikan kegiatan rutin Shalat Dhuha, para murid melanjutkan kegiatan dengan Shalat Istisqa. Mereka berkumpul dengan tertib dan mengikuti rangkaian ibadah tersebut dengan suasana yang khidmat.
Shalat Istisqa dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar dan doa untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT. Dalam kegiatan di sekolah, doa bersama juga diarahkan untuk memohon kesehatan, keberkahan serta perlindungan dari berbagai musibah yang dapat terjadi di lingkungan masyarakat.
Kegiatan ini menjadi semakin bermakna karena berlangsung ketika masyarakat sedang memberikan perhatian terhadap kondisi lingkungan dan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik dan kondisi alam yang berubah menjadi pengingat bahwa manusia perlu terus menjaga diri, mengikuti informasi resmi, serta melakukan ikhtiar untuk keselamatan bersama.
Pelaksanaan Shalat Istisqa tidak berdiri sendiri. Kegiatan tersebut dilaksanakan setelah pembiasaan Shalat Dhuha yang memang menjadi bagian dari rutinitas keagamaan di sekolah.
Rangkaian ini membuat kegiatan terasa lebih dekat dengan keseharian murid. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan guru tentang ibadah, tetapi mendapatkan kesempatan untuk mengalami dan mempraktikkannya secara langsung.
“Shalat Istisqa ini kami laksanakan setelah kegiatan rutin Shalat Dhuha. Selain sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama, kegiatan ini juga kami jadikan pengalaman belajar bagi murid agar mereka mengetahui secara langsung praktik Shalat Istisqa, maksud permohonannya, dan tujuan dilaksanakannya.”
Saiful Jamil, M.Pd.Menurut Saiful Jamil, kegiatan seperti ini penting karena Shalat Istisqa termasuk ibadah yang relatif jarang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kesempatan tersebut kemudian dimanfaatkan sekolah untuk memberikan pengalaman belajar yang nyata kepada murid.
Murid diperkenalkan pada maksud dilaksanakannya Shalat Istisqa, tata cara pelaksanaannya, serta nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan begitu, pembelajaran agama tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dilanjutkan melalui pengalaman langsung.
“Anak-anak perlu mengetahui bahwa ketika menghadapi suatu keadaan, kita tidak hanya berdoa, tetapi juga tetap berikhtiar dan menjaga keselamatan. Dari kegiatan sederhana seperti ini, kami berharap tumbuh kesadaran dan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar,” tambah Saiful Jamil.
Shalat Istisqa menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ada keadaan yang berada di luar kendali manusia, sehingga selain berusaha, manusia juga memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Doa yang dipanjatkan bersama juga menjadi ruang bagi murid untuk belajar bersyukur, rendah hati dan peduli. Mereka diajak memahami bahwa keselamatan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang keluarga, teman, sekolah dan masyarakat di sekitarnya.
Melalui kegiatan ini, SD Negeri 1 Srimenganten ingin menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan murid. Shalat bukan hanya dipahami sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun sikap, kepedulian dan rasa syukur.
Harapannya, pengalaman mengikuti Shalat Istisqa akan menjadi sesuatu yang diingat murid. Bukan sekadar karena mereka pernah melaksanakan sebuah ibadah yang jarang dilakukan, tetapi karena mereka memahami pesan di baliknya: berusaha, berdoa, peduli dan saling menjaga.
Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah memberikan komentarnya